oleh

600 Hektar Sawah Terlantar, Bendungan 22 M Sulu/Paslaten Dinilai Mubasir.

foto : bendungan sulu-paslaten berbandrol 22 M
foto : bendungan sulu-paslaten berbandrol 22 M

Wartasulut. Com, Tumpaan — Para petani sawah yang ada diDesa Sulu dan Paslaten Raya Kecamatan Tatapaan menjerit terancam kehilangan mata pencaharian, dikarenakan lahan persawahan yang ada sekitar 650 Hektar hanya bisa tergarap sekitar 50 Hektar saja sedangkan sisanya 600 Hektar hanya menjadi lahan tidur, hal ini disebabkan debit air yang ada disaluran irigasi volumenya sangat kecil.

foto : debit air saluran irigasi Desa Sulu
foto : debit air saluran irigasi Desa Sulu

 

foto : sawah jadi tempat makan sapi
foto : sawah jadi tempat makan sapi

Bendungan irigasi Sulu-Paslaten berbandrol 22 Miliar yang bersumber dari anggaran APBN tahun 2016 yang peresmian pembangunan dilakukan oleh Bupati Christiany Eugenia Paruntu SE, bertujuan untuk meningkatkan volume air pada saluran irigasi agar bisa memenuhi kebutuhan air dilahan persawahan para petani, dimana proses pekerjaannya telah selesai namun sangat disayangkan debit air yang ada pada saluran irigasi bukannya meningkat tapi malah menurun dan hampir kering.

Pembangunan bendungan irigasi yang menghabiskan anggaran puluhan miliar ini, hanya merupakan suatu bentuk pemborosan menghabiskan uang negara. Keberadaan bendungan ini hanya mubasir tak ada manfaatnya bagi petani.

Ande Lamia petani sawah Desa Sulu kepada para media, Rabu (23/2) mengatakan, sebagai petani merasa sangat kecewa, sawah yang biasa ia garap ditanami padi dan menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga kini sudah tak digarap karena tak ada air yang mengaliri. Sekarang ini sawa tersebut sudah berganti fungsi sebagai tempat makanan sapi, karena sawah tersebut sudah ditumbuhi rumput ilalang, ucapnya

Dikatakan Lamia lagi biasa para petani yang ada disini menggarap Lahan persawahan kurang lebih 650 Hektar untuk ditanami padi, tapi kini hanya tinggal 50 Hektar saja, untuk menybung kehidupan keluarga para petani harus mencari pekerjaan yang lain, itupun penghasilan yang kami terima jauh berbeda dengan hasil pendapan yang kami dapat dari menggarap sawah. Persoalan yang dihadapi para petani ini telah dilaporkan kepada  pemerintah Kabupaten. Tetapi, sampai saat ini belum ada tidakan yang dilakukan pemerintah, ungkapnya

Harapan petani sawah yang ada diDesa Sulu dan Pasletan, kira apa yang para petani alami ini dapat diperhatikan pemerintah daerah dalam hal ini Bupati Cristiany Eugenia Paruntu SE dan Wakil Bupati Frangky Donni Singkat SH, jujur saat ini kami sudah merasa tersiksa tak lagi bisa menggarap lahan persawahan kami untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, jelas Lamia bersama beberapa petani lainnya  (feidy lahope)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed