oleh

Wabup FDW, Jadikan Toleransi Beragama Sebagai Pemacu Kemajuan Minahasa Selatan.

FB_IMG_1489659722038
Wartasulut. Com, Amurang– Keanekaragam budaya, adat, ras, etnis, bahasa, agama dan lainnya. Semua itu dicantumkan ke dalam semboyan kita yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Oleh karena itu sebagai masyarakat yang ada diselatan tanah minahasa, mari kita jikakan toleransi beragama bukan sekedar menciptakan situasi kehidupan masyarakat  aman, tentram dan rukun, tapi sikap toleransi beragama sebagai wadah untuk memacu meningkatkan kemajuan daerah yang kita cintai Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel).
Berdasar dari 4 pilar kebangsaan, toleransi adalah membiarkan orang lain berpendapat lain, melakukan hal yang tidak sependapat dengan kita, tanpa kita ganggu ataupun intimidasi. Istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Toleransi juga berarti menghormati dan belajar dari orang lain, menghargai perbedaan, menjembatani  kesenjangan budaya, menolak stereotip yang tidak adil, sehingga tercapai kesamaan sikap.
Mari kita jadikan toleransi beragama  sebuah solusi bagi untuk memajukan daerah yang kita cintai. Masyarakat yang terdiri dari individu-individu dengan aturan-aturan yang berlaku di dalamnya. Sebagai masyarakat beragama, toleransi memegang peran yang sangat penting. Masyarakat Minsel yang beragam ini akan memiliki banyak perbedaan-perbedaan, sehingga sangat mungkin perbenturan akan sering terjadi antara individu dalam kehidupan bermasyarakat ini. Cobalah kita renungkan dan kita sadari mengapa terjadi peristiwa seperti perkelahian antar warga,  peristiwa tersebut merupakan cerminan dari kurangnya toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang pada hakikatnya merupakan kehidupan masyarakat bangsa. Di dalamnya terdapat kehidupan berbagai macam pemeluk agama dan penganut kepercayaan yang berbeda-beda. Demikian pula di dalamnya terdapat berbagai kehidupan antar suku bangsa yang berbeda. Tak terkecuali diMinahasa Selatan, Namun demikian perbedaan-perbedaan kehidupan tersebut tidak menjadikan kita tercerai-berai, akan tetapi justru menjadi kemajemukan kehidupan sebagai suatu bangsa dan negara Indonesia lebih khusus sebagai masyarakat minahasa selatan. Oleh karena itu kehidupan tersebut perlu tetap dipelihara agar tidak terjadi disintegrasi atau terpecah belahnya suatu bangsa. Tutur FDW panggilan akrab Wabup Minsel (feidy lahope)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed