oleh

Bendungan Ambruk Diterjang Banjir, Petani Karowa Menjerit Sawah 100 Ha Lebih Tak Bisa Digarap.

Keadaan sawah yang tak bisa digarap, serta kondisi saluran irigasi
Keadaan sawah yang tak bisa digarap, serta kondisi saluran irigasi

 

Wartasulut. Com, Tompasobaru — DiKala pemerintah daerah gencar memotivasi masyarakat untuk giat menanam, untuk meraih program swasembada beras mencapai kedaulatan pangan, juga menjadikan Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) sebagai daerah sentra produksi   beras, sangat disayangkan ternyata di Desa Karowa, Kecamatan Tompaso Baru, justru Seratus hektar lebih sawah milik petani selang bulan Januari 2017 tak digarap alias ‘tidur’.   Dari pantauan Wartasulut.com di lokasi, Sabtu (30/4) kemarin, areal  persawahan  yang menghampar pinggiran desa yang tepat berada dibelakang pemukiman warga tersebut hanya ditumbuhi rerumputan liar juga menjadi tempat ikat sapi.

Tak tergarapnya ratusan hektar sawah ini disebabkan, pada bulan Desember 2016 Bendungan yang ada diSungai Ranoyapo yang biasa dipakai menampung air, untuk disuplai kesaluran irigasi serta mengalirih ratusan hektar lahan persawahan, hancur dihantam banjir. Usaha perbaikan kerusakan bendungan melalui swadaya masyarakat sudah pernah dilakukan tapi sia-sia, malahan kerusakannya makin parah. Ucap Oyong Kesek, petani setempat yang ditemui di lokasi.
Akibat air sudah tak  lagi mengalir diirigasi, sawah tak lagi mendapatkan air.

Kondisi ini sangat disayangkan, dulunya sawah di lokasi itu termasuk yang paling subur di wilayah Kecamatan Tompaso Baru.  Bukan itu saja, sawah yang ada ini bisa ditanami sampai 3 kali setahun. Kini kondisinya tandus dan terlantar. Jelas Kesek

Senada juga dikatakan Mask Kosegeran, sebagai petani kami meminta kepada pemerintah untuk turun tangan memperbaiki kondisi bendungan yang rusak.  Apa yang dialami para petani sudah disampaikan kepemerintah daerah Namun sampai hari ini belum ada kejelasan.  Karena kondisi sawah yang memang tak mungkin lagi dimanfaatkan untuk ditanami padi, demi untuk  menyambung hidup keluarga Ia bersama ratusan petani lainnya sejak Januari berkerja sebagai pemanjat kelapa, tukang bangunan, serta tukang ojek. Walaupun penghasilan yang kami dapat tak sama dengan ketika kami menggarap sawah. Tutur Kosegeran

Bersama para petani yang lain Kosegeran pun berharap, pemerintah Minahasa Selatan (Minsel) dapat segera merealisasikan keinginan warga Karowa.  Sebab, “Kami tahu salah satu program Bupati Cristiany Eugenia Paruntu, SE dan Wakil Bupati Frangky Donni Wongkar, SH khan memperkuat sektor pertanian, termasuk di dalamnya swasembada beras menjadikan Minsel sebagai daerah lumbung beras.  Karena itu kami berharap aspirasi warga Karowa bisa diperhatikan dengan mengalokasikan anggaran pembangunan bendungan Ranoyapo,b untuk mengembalikan potensi produksi beras yang hilang,”  papar Kosegeran di akhir percakapan (feidy lahope)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed