oleh

Jalan Trans Modoinding Lumpuh Tertutup Longsor, Balai Jalan Sulut Cuek

Kondisi Ruas Jalan yang tertutup longsor sore tadi
Kondisi Ruas Jalan yang tertutup longsor sore tadi

 

Wartasulut . Com, Modoinding — Curah Hujan yang tinggi ditambah perambahan hutan makin merajalela yang terjadi di wilayah perbukitan antar Kecamatan Modoinding dan Maesaan, mengakibatkan terjadinya bencana tanah longsor dibeberapa titik jalan yang menghubungkan antara Desa Tambelang kecamatan Maesaan dan Desa Mokobang Kecamatan Modoinding tak bisa dilalui kendaraan terlebih kendaraan roda 4. Akibat tertimbun material longsor diseluruh badan jalan.

Peristiwa tanah longsor yang terjadi kira-kira jam 10 malam (22:00 wita)  yang menutupi badan jalan panjangnya kurang lebih 15 meter dengan ketinggian 2.5 hingga 3 meter. Yang disebabkan oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut mulai Rabu (24/5) sore kemarin, mengakibatkan proses pemasaran hasil pertanian Holtikultura para petani mengalami sedikit kendala.
Namun sangat disayangkan, peristiwa tanah longsor yang menutupi seluruh badan jalan ini tak ada perhatian pemerintah dalam hal ini instansi terkait yaitu Balai Jalan Provinsi Sulawesi Utara (Utara) yang mempunyai tanggung jawab penuh terhadap keberadaan ruas jalan ini.
HukumTua desa Tambelang Jenry Mokalu, saat dikonfirmasi para media mengatakan, di wilayah ini sering terjadi tanah longsor yang cukup besar, sehingga menutupi badan jalan, untuk itu ia meminta atas nama masyarakat agar dinas terkait dalam hal ini Badan Pengawasan Jalan Nasional (BPJN), agar supaya dapat segera membersihkan material longsor ini, dan meminta ke BPJN agar dapat mengadakan pengadaan alat berat di wilayah ini apa terlebih dimusim hujan seperti sekarang ini. Dengan adanya alat berat berupa excavator yang stand by di wilayah ini, ketika terjadi longsor seperti ini bisa langsung dibersihkan, sehingga mengganggu aktifitas lalu lintas.” kata Mokalu.
Lanjut Mokalu, dengan kejadian tanah longsor yang cukup besar, para petani serta masyarakat modoinding pada umumnya merasa sangat terganggu, karena aktivitas masyarakat baik masuk dan keluar mengalami gangguan. Terpaksa untuk melakukan aktivitas terlebih untuk memasarkan hasil pertanian Holtikultura baik diAmurang maupun wilayah Minahasa kami harus mengmengeluarkan ongkos yang tinggi, karena harus mengikuti daeah Bolaang Mongondow yang jaraknya dua kali lipat jauh, jika dibandingkan dengan melintas diKecamatan Tompaso Baru dan Motoling, ucap Mokalu
Hingga berita berita ini di turunkan, material longsor masih menutupi badan jalan, dan belum bisa di lewati oleh kendaraan roda 4, sedangkan kendaraan roda 2 boleh melintas, namun harus di bantu oleh masyarakat yang ada dilokasi longsor. (feidy lahope)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed