oleh

Meriah Perayaan HUT Ke-244 Desa Picuan Dirangkaikan Dengan Perayaan Pangucapan Syukur.

FB_IMG_1562669857497
 

Wartasulut. Com, Minsel — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 244 Desa Picuan Kecamatan Motoling Timur berlangsung meriah, kegiatan acara yang dirangkaikan dengan perayaan pangucapan syukur. Puncak acara yang dilaksanakan pada Selasa 9 Juli 2019 ini. Yang dilaksanakan diBalai Pertemuan Umum (BPU) Desa, baik masyarakat maupun pemerintah desa serta para tamu undangan larut dalam kebahagiaan.

Acara ini dihadiri unsur Wakil Bupati Franky Donni Wongkar, SH, Ketua PMI Michael Elsiana Paruntu, Ketua KONI Minsel James Arthur Konjongian, Unsur FORKOMPIMCA Motoling, Camat Motoling Timur Eva Kaligis, Para Hukum Tua dari Desa Tetangga, Tokoh Masyarakat/Agama, Perangkat desa, BPD, PKK, Kader Kesehatan Picuan Raya, serta masyarakat.

Hukum Tua Tawaang Barat Breadly Nongkan, mengatakan bahagia dan bangga dengan kegiatan acara yang dilaksanakan, dekorasi panggung yang menampilkan nuansa alam tempo dulu yang dihiasi dengan hasil pertanian masyarakat membuat perayaan Hut desa ditahun 2019 ini berbeda dengan pelaksanaan acara yang dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya.

“Lakoy pun menuturkan Sejarah berdirinya Desa Picuan, nama Picuan adalah PINEKUAN, yaitu tumbuhan TUIS yang di PEKU ‘(dipatahkan) menjadi penunjuk arah jalan.

Para Tonaas datang dari daerah Minahasa Tengah untuk berburu binatang liar seperti tikus, babi hutan, ayam dan binatang liar lainnya. 

Untuk memasuki hutan yang menjadi tujuan berburu, para Tonaas transit dari desa Wanga. Pada setiap kali mereka berburu, ternyata hasil buruannya sangat banyak sehingga mereka tidak bisa mengangkutnya. 

Sebagian hasil buruan tersebut ditinggalkanlah di tengah hutan, dengan cara di gantungkan di loilong/sabuah/Terung/dangau sederhana yang Mereka buat. Dan  dari dangau tersebut mereka memasangkan tanda PEKU sampai dijalan yang mereka lalui untuk pulang yaitu di desa Wanga. 

Sesampai di desa Wanga, para Tonaas serta beberapa pengikut menyampaikan kepada rekan lainnya agar pergi ke hutan menjemput hasil buruannya yang di tinggalkan, yang waktu itu tidak sempat ikut berburu. 

Ketika para pengikut yang akan berangkat menjemput sisa hasil buruan di tengah hutan, mereka bertanya dimanakah tempat para Tonaas meninggalkan hasil buruan tersebut. Maka dijawablah para Tonaas: agar kamu bisa mendapatkannya serta kamu tidak akan tersesat, maka kamu harus mengikuti arah jalan yang ditunjukkan oleh tanda PEKU yang kami buat dari tumbuhan TUIS. 

Sejak saat itulah, semakin sering mereka memasuki hutan tersebut dan mulai bermalam. Lama kelamaan, mereka mulai mengantar lebih banyak pengikut disertai dengan keluarga masing-masing dan mulai mendirikan dangau-dangau sebagai tempat tinggal. 

Pada akhirnya mereka mulai betah menetap disana, dan makin lama mulai terbentuk sebuah pemukiman baru. 

Dan pada tanggal 09 Juli 1775 desa Picuan resmi di sahkan sebagai sebuah desa oleh pemerintah kerajaan Belanda dengan nama yang diberikan/digunakan oleh para Tonaas dan para pemukin yaitu “PINEKUAN”. 

Kata PINEKUAN mereka ambil dari kata “PEKU” yang artinya patah, ‘tempat dimana adanya kayu tuis yang Dipatahkan. 

Kata “PINEKUAN” pertamakali diucapkan oleh Para Tonaas, namun karena pengaruh dialek orang Belanda yang tidak dapat dengan sempurna menyebut/mengucapkan kata pinekuan, sehingga Belanda hanya dapat menyebutnya dengan ucapan PICUAN. 

Adapun pendiri desa Picuan yaitu Tonaas TOMPODUNG, MERENTEK dan RUMONDOR. 

Saat ini desa Picuan menggenapi usia Ke-244 Tahun (09 Juli 1775-09 Juli 2019). 

Berikut Nama pemimpin desa sejak terbentuknya Tahun 1775 sampai 2019.

# Tahun 1775-1786

-TONAAS, TOMPODUNG 

– PEMIMPIN AGAMA, MERENTEK 

– KEPALA ADAT, RUMONDOR 

Tahun 1786-1800 (Tonaas II Kumayas),1800-1840 (Pama’tuan, Israel Merentek), 1840-1850 (Wakil Hukum Tua, Kalalo), 1850-1876 (Ismail Merentek) 1876-1901 (Laurens Tompodung), 1901-1951 (Hendrik Merentek), 1951-1963 (Daan Rambitan), 1963-1965 (Markus Rumondor), 1965-1970 (Androkles Kontu), 1970-1973 (Johanis Kawulur), 1973-1974 (Junius Tendean), 1974-1979 (Hein Sumangkut), 1979-1981 (Junius Tendean), 1981-1985 (Jhony Rumondor), 1985-1986 (Hideki Merentek), 1986-1988 (Jan Kontu), 1988-1989 (Junius Merentek), 1989 (Ruddy Kawulur), 1998 (Ny. Rumondor Merentek), 1998-2007 (Markus Merentek),  2007 (Richard Timporok), 2007-2013 (Markus Merentek), 2013-sekarang, “jelas Lakoy. (Feidy lahope)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed