oleh

Terjadi Peningkatan Kasus Pelecehan Seksual Dan Kekerasan Anak DiMinsel. 10 Kasus Bermuara Di PN Amurang.

Foto : ilustrasi kekerasan terhadap anak
Foto : ilustrasi kekerasan terhadap anak

 

Minsel, Wartasulut. Com — Kabupaten Minahasa Selatan menjadi salah satu daerah yang mengalami peningkatan tindak pidana pelecehan seksual dan kekerasan anak di bawah umur, meningkat. Hal ini disampaikan Humas Pengadilan Negeri (PN) Amurang Erick I Christofel.
“Rentang waktu mulai bulan Januari sampai dengan bulan Juli tahun 2019 ini, tercatat sudah 10 kasus yang masuk di Meja PN Amurang. Hal meningkatkan dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya tercatat hanya 8 kasus. kasus yang menonjol di PN Amurang adalah penganiayaan dan pembunuhan. Serta kasus pelecehan seksual. Ujarnya pekan kemarin
Disinggung tentang putusan pengadilan atas kasus pelecehan seksual anak di bawah umur, dirinya mengatakan PN Amurang telah memberikan putusan paling tinggi. “Salah satu kasus pelecehan di PN Amurang dijatuhi hukuman penjara di atas 15 tahun,” ungkap Christofel
Ditempat terpisah Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-KB dan P3A) Minsel Meity Tumbuan menuturkan, kekerasan seksual terhadap anak akan berdampak panjang. Disamping berdampak pada masalah kesehatan di kemudian hari, juga berkaitan dengan trauma yang berkepanjangan bahkan hingga dewasa. “Dampak trauma akibat kekerasan seksual yang dialami oleh anak-anak, antara lain pengkhianatan atau hilangnya kepercayaan terhadap orang dewasa (betrayal). Trauma secara seksual (traumatic sexualization), merasa tidak berdaya (powerlessness), dan stigma (stigmatization),” terangnya.
Secara fisik, lanjutnya, memang mungkin tidak ada hal yang harus dipermasalahkan pada anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Tapi secara psikis, bisa menimbulkan ketagihan, trauma, bahkan pelampiasan dendam. “Bila tidak ditangani serius, kekerasan seksual terhadap anak dapat menimbulkan dampak sosial yang luas di masyarakat,” ujarnya.
Penanganan dan penyembuhan trauma psikis akibat kekerasan seksual, kata Tumbuan, haruslah mendapat perhatian besar dari semua pihak yang terkait. Seperti keluarga, masyarakat maupun negara. Karenanya, didalam memberikan perlindungan terhadap anak, perlu adanya pendekatan sistem. Yang meliputi sistem kesejahteraan sosial bagi anak-anak dan keluarga, sistem peradilan sesuai standar internasional, dan mekanisme untuk mendorong perilaku yang tepat dalam masyarakat.
Mengatasi masalah tersebut, terang Tumbuan, pihak kami menyiapkan tenaga psikolog untuk mendampingi anak korban kekerasan seksual. Selain tenaga psikolog, juga disiapkan penasehat hukum untuk mengikuti perkembangan proses hukum pelaku. “Psikolog bertugas memulihkan rasa trauma korban, sehingga pada waktu tertentu dapat beraktivitas normal dan bergaul seperti biasa,” katanya.
Selain pendampingan rasa trauma bagi korban, juga diperlukan sesi tukar pikiran dengan keluarga korban, khususnya orang tua. “Orang tua ikut memikul beban mental akibat perlakuan tidak wajar terhadap anak, sehingga memerlukan asupan pemikiran yang positif dari orang-orang dekat,” tutupnya. (feidy lahope)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed