oleh

Pemberlakuan Pasar Amurang 2 Kali Seminggu Diminta Kaji Kembali. Potensi Besar Terjadi Penyebaran Virus Covid

Foto : aktivitas yang terjadi didalam pasar
Foto : aktivitas yang terjadi didalam pasar
Minsel, Wartasulut. Com — Kebijakan pengoperasian pasar rakyat 54 Amurang 2 kali seminggu (Senin dan Jumat). Menyebabkan terjadinya volume pengumpulan masa sangat signifikan. Hal berpotensi besar terjadi penyebaran virus Covid 19 diKabupaten Minahasa Selatan.
Pantauan media ini, Senin (30/3) dilapangan. Pengumpulan masa yang terjadi dipasar amurang oleh karena kebijakan yang dilakukan pihak pengelola yakni perusahaan daerah “Cita Waya Esa” seakan mengindahkan program yang digalakkan pemerintah daerah terkait pemberlakuan Social Distancing.
Sejumlah tanggapan dari masyarakat pun bermunculan. Seperti yang diungkapkan pengusaha muda Amurang Fanny Pangkey, keadaan pasar saat ini seperti keadaan mau pangucapan Minsel. Masyarakat membludak untuk membeli hal ini akan menjadi wadah makin mudanya penyebaran virus Covid. Untuk itu Saya meminta pemerintah daerah tolong untuk pertimbangkan Lagi kebijakan buka tutup Pasar Amurang Saat ini, seakan himbauan Social Distancing tak berlaku lagi. “Ungkap Pangkey
“Pengoperasian pasar Amurang hanya hari Senin dan Jumat.
Dengan himbauan Physical Distancing untuk antisipasi penularan Covid 19 ini. Apakah sudah dikaji dengan benar risiko akibat terkumpulnya orang-orang dipasar setiap hari senin dan jumat saja. Risiko dari Tertular dan atau Menularkan penyakit ini.
“Apa tidak lebih baik operasional pasar itu dilakukan setiap hari dengan pembatasan waktu operasional misalkan jam 06.00-09.00 pagi saja. Usai berjualan para pedagang atau penjual ketika akan  meninggalkan pasar pastikan sudah dalam keadaan bersih. Pemerintah juga wajib menyediakan wadah-wadah tempat cuci tangan serta sabun. “Jelas dr. Henny Ottay yang juga adalah Satgas Covid 19 di RSU Kalooran.
Sementara para pedagang mengaku resah dengan status pasar saat ini yakni 2 kali seminggu, bersyukur jika barang dagangan kami habis terjual bagaimana jika tersisa apakah perusahaan daerah Cita Waya Esa sebagai pengelola akan membeli semua sisa dagangan kami, bukannya keuntungan yang didapat melain kerugian terus keluarga kami mau makan apa. Sebaik pihak pengelola memikirkan juga keadaan para pedagang bukan hanya untuk mengejar pendapatan melalui retribusi lantas kami yang dikorbankan, “ucap para pedagang (fei’la)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed