oleh

Lima Tersangka Kasus Penganiayaan di Jalan Mundung Tonsawang statusnya Masuk Dalam Penyidikan

IMG-20210305-WA0006

Ratahan, WartaSulut.Com — Kasus perundungan atau kasus penganiayaan yang dilakukan oleh anak yang terjadi di perkebunan Mundung Tonsawang Kecamatan Tombatu pada hari minggu (24/1) lalu yang sempat viral di media sosial saat ini masuk dalam proses Penyidikan dan kelima terlapor menjadi tersangka.

Kapolres Mitra AKBP DR Rudi Hartono melalui pers Rilis Polres Mitra mengatakan bahwa kelima tersangka saat ini dalam dalam proses penyidikan. Orang nomor satu di polres Mitra ini mengatakan bahwa kronologis kejadian penganiayaan tersebut terjadi pada hari Minggu tanggal 24 Januari 2021 sekitar Pukul 17.00 Wita, saat pelaku 1 dan korban sedang berada di perkebunan Desa Mundung-Tonsawang Kecamatan Tombatu. Pada saat itu, pelaku 1 dan korban sedang jalan – jalan dan tiba-tiba Pelaku 1 menarik tangan korban sampai korban jatuh ke aspal. Setelah terjatuh, Pelaku 1 langsung menganiaya korban secara berulang kali kearah wajah korban selanjutnya Pelaku 2 datang dari arah belakang korban dan ikut menganiaya korban dengan menggunakan tangannya kearah wajah korban lalu menendang korban hingga terjatuh serta menjambak rambut lalu menginjak-injak korban berulang kali, setelah itu datang mendekat pelaku 3 dan menganiaya korban dengan menggunakan tangan diikuti pelaku 2 dan 4 menganiaya secara bersama- sama kepada korban dengan menggunakan kaki dan tangannya ke arah wajah dan tubuh korban, setelah itu Pelaku 5 menampar ke arah pipi sebanyak 1 kali.
Bahkan Dengan viralnya kejadian tersebut di medos, pada besoknya pada hari Senin ( 25/) anggota piket bersama Tim Opsnal Polres Mitra melakukan lidik terkait video tersebut selanjutnya mencari dan mengamankan para pelaku ke Polsek Tombatu untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, tambah Hartono.
Selanjutnya kita membuat laporan polisi menindaklanjuti kejadian tersebut dengan LP nomor: LP/2/I/2021/Resmitra/SekTombatu  ditangani oleh Polsek Tombatu yang bergabung dengan unit PPA Sat Reskrim Polres Minahasa Tenggara.
” Dalam penanganan kasus anak ini kita mengedepankan penanganan dengan Keadilan Restoratif atau Restorative Justice sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak dimana dalam UU tersebut penyelesaian perkara anak dikedepankan penyelesaian dengan Diversi atau musyawarah kekeluargaan baik di tingkat penyidikan, penuntutan hingga pengadilan,” ujar Hartono.
Ditambahkan Kapolres bahwa setelah menerima laporan pihaknya melakukan upaya perdamaian dengan melakukan komunikasi dengan Pemerintah Daerah baik Dinas Perlindungan Anak, Dinas Pendidikan, Camat, Hukum Tua bahkan saya (Kapolres) juga berkoordinasi langsung dengan Bupati Mitra agar kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan namun pada saat itu terkendala karena orang tua korban masih ada di Maluku sehingga harus menunggu orang tua korban tiba di Mitra. Namun keluarga korban tidak mau tidak mau kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan dan kadua tersebut Untuk itu dinaikkan statusnya ke penyidikan dan kepada TSK sudah dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka dan akan dilakukan pemeriksaan bersama pihak Bapas dari Manado. ” Untuk berkas tahap satu sudah dikirim ke Kejaksaan, namun demikian, kami tetap akan mengupayakan Diversi atau Musyawarah dan mengundang semua pihak yang terkait sesuai dengan amanat dalam UU Peradilan Anak terkait pelaksanaan Diversi,” ujar Hartono.
Ditambahkannya pula bahwa hingga saat ini kelima tersangka tidak kami lakukan penahanan karena ini termasuk penganiayaan biasa dan mereka masih tergolong sebagai Anak, dan mereka hanya melakukan wajib lapor untuk memperlancar jalannya penyidikan.
Untuk pasal yang diterapkan yaitu Psl 80 ayat 1 jo Psl 76 c UU No 17 tahun 2016 tentang Penetapan Perpu No 1 thn 2016 tentang Perubahan kedua atas UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang Undang, timpal Hartono. ( Fredi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed