Kemenparekraf Gelar Sosialisasi Olah Sampah Di Sarawet

MINUT WARTA SULUT – Kemenparekraf pertama kalinya menggelar sosialisasi program pendampingan pengelolaan sampah plastik di Desa Serawet Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara.

Sosialisasi dipimpin langsung Ketua Tim Pendampingan pengelolaan plastik di destinasi wisata bahari Muh Nurdin.

Masyarakat Desa Serawet menyambut kedatangan Tim Nurdin cs.
Dikatakan Nurdin, hari ini suatu bentuk kontribusi Kemenparekraf dalam program rencana aksi nasional penanganan sampah laut di Daerah Pariwisata Super Prioritas (DPSP).

“Jadi program ini dasar dari Perpres No 83 tahun 2018 dengan melibatkan 16 Kementrian yang sepakat mengintervensi terkait pengelolaan sampah laut,” ungkap Nurdin.
Kata Nurdin, pemerintah melalui Kemenparekraf telah memilih Desa Serawet menjadi pilot project tentang pengelolaan sampah laut.

“Hari ini kami memberikan pendampingan sosialisasi program bagaimana caranya kita mengolah sampah plastik dan besok mereka akan mendapatkan pelatihan untuk managementnya,” katanya.

Masyarakat Desa Serawet mendapatkan pelatihan mulai dari management sampah, membentuk unit pengelolaan sampah, tata kelola hingga pemasaran hasil produk.
Nurdin mengungkapkan, tahun ini, sudah menjadi yang ke 2 kalinya Kemenparekraf mengunjungi Desa Serawet.

“Yang pertama kami datang untuk mengindentifikasi desa ini dan bertemu dengan pak kades serta masyarakat, melihat semangat dari masyarakat di tempat ini maka Serawet terpilih sebagai pilot project pengelolaan sampah plastik,” beber Nurdin.

Bahkan, beber Nurdin, masyarakat mendapatkan dukungan penuh dari Danon, Kementrian Kelautan dan Perikanan serta KKP.

“Dari KKP mereka akan mendukung melalui sarana prasana seperti unit untuk pengelolaan sampah plastik yang saat ini masih dalam proses pengadaan, sedangkan Danon kemarin sudah membuatkan tempat untuk pengelolaan sampahnya,” terang Nurdin.

Ditempat yang sama, Aktifis Lingkungan dari Komunitas Baciraro Marlon Kamagi mengatakan, ditetapkannya Serawet sebagai pilot project mampu mengembangkan pariwisata berkelanjutan.

“Dengan ditetapkannya Serawet sebagai pilot project, berarti kan nantinya akan ada kunjungan wisata. Kalau ada kunjungan wisata kesannya harus sehat dan bersih, kemudian bagaimana caranya kita membuat destinasi ini menjadi pariwisata berkelanjutan yang aspek tata kelolanya melibatkan masyarakat, lingkungan terjaga tapi ada nilai ekonomi, nah itu adalah program bank sampah,” kata Kamagi.

Menurutnya, memulai sesuatu bukan hal yang sulit, tapi bagaimana kita konsisten dan komitmen terhadap program ini.

“Terbukti semenjak 2019 masyarakat konsisten dan komitmen sehingga dukungan saat ini semakin signifikan,” ungkapnya.

Kamagi berharap, melalui bank sampah ini walaupun hal kecil, sederhana, tapi berkelanjutan.
Desa Serawet juga mendapat dukungan penuh dari Kelompok Nelayan Elang Laut Serawet (Knels), Komunitas Pecinta Alam Likupang (KPAL) dan Komunitas Likupang Raya (KLiR).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *