oleh

Harga Kopera Sekarat, Silian Barat Beralih ke VCO

Oscar Legi-Heisye Katupayan
Oscar Legi-Heisye Katupayan

 

Ratahan, WartaSulut.com – Harga kopera yang terjun bebas membuat petani kelapa, merana. Bahkan tidak sedikit petani di Minahasa Tenggara yang beralih ke tanaman lain seperti vanili yang dianggap lebih menjanjikan nilai ekonomisnya.

Situasi ini yang kemudin membuat pemerintah Desa Silian Barat mengambil kebijakan memanfaatkan dana desa (dandes) untuk penganggaran pemberdayaan masyarakat pengolah buah nyiur menjadi produk virgin coconut oil (VCO).

“Pembuatan VCO yang dikelolah langsung masyarakat sudah kami tata dalam penganggaran dandes tahap tiga tahun ini, ” ungkap Kepala Desa Silian Barat, Oscar Legi SH, Rabu (13/6/2019).

Diterangkan Legi, VCO atau bisa disebut minyak kelapa murni dalam pembuatan pengolaanya jauh berbeda dengan minyak kelapa biasa. Sedangkan ide pemberdayaan masyarakat melalui pembuatan VCO kata Legi, lahir dari masyarakat sendiri.

“Daru masyarakat dan kami kemudian menata anggarannya pada dandes tahap tiga nanti, ” terang Legi.

Untuk sekarang ini, lanjut Legi, pemerintah Desa Silian Barat tengah berfokus untuk melengkapi kebutuhan infrastruktur. Diantaranya pembangunan drainase sepanjang 227 meter dengan anggaran sekira Rp 300 juta yang anggarannya akan dicairkan dua tahap.

“Tahap satu dan tahap dua Tahun 2019. Pengerjaannya dimulai pekan depan,” kata Legi sembari menambahkan Pemdes Silian Barat juga telah menganggarkan program beda rumah, pengadaan lampu jalan dan makanan tambahan bagi anak dan ibu menyusui.

Demikian juga dilakukan Pemerintah Desa Silian Tengah, yang diketahui sedang berfokus pada pembangunan infrastruktur. Desa yang dikepalai Heisye Katupayan SE juga tengah memberdayakan masyarakatnya membangun drainase dan plat decker yang penganggarannya juga bersumber dari dana desa.

Selama ini kata Katupayan, pemerintah desa selalu memberdayakan masyarakat Silian Tengah dalam mengelola dandes. “Termasuk operasional kendaraannya tidak pernah kita cari dari luar. Semuanya dari masyarakat setempat,” beber Katupayan.

Katupayan menambahkan, anggaranya pun diberlakukan secara transparan. “Total anggarannya Rp 600-an juta untuk Tahun 2019. Tiap ada pekerjaan laporannya disampaikan ke masyarakat, ” pungkas Katupayan.

 

(Rul)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed